 | Novi.wajah alamikoe | |
  | Guestbook | |
 |
Peliput: Erwin Saputra - Iwan Agung Tayang: Senin, 05 Februari 2007, Pukul 23.30 WIB
indosiar.com, Jakarta - Kisah para TKW yang menjadi korban kekerasan fisik maupun seksual bukan hal baru lagi kita dengar. Hingga kini kisah pilu itu masih sering terjadi. Dibalik itu semua, yang sering terabaikan adalah nasib anak dari para TKW yang terlanjur hamil akibat menjadi korban perkosaan.
Cerita duka dibalik usaha untuk meraih kesejahteraan hidup, bukan sekali dua kali terdengar. Tenaga Kerja Wanita (TKW) yang bekerja di luar negeri termasuk golongan yang banyak mengalami nasib buruk. Meski ada yang sukses meraih penghasilan yang memadai.
Kasus kekerasan khususnya perkosaan kerap menimpa mereka. Tak jarang mereka hamil dan melahirkan anak. Sayangnya sangat langka ada yang mau bertanggungjawab.
Kebanyakan bila terlanjur hamil, para TKW lebih memilih pulang ke tanah air. Bahkan ada pula yang melahirkan darurat di Terminal 3 Bandara Soekarno Hatta yang merupakan tempat kedatangan para Tenaga Kerja Indonesia (TKI) dari luar negeri.
Yang memprihatinkan, anak-anak yang lahir dari rahim TKW - TKW kita juga sulit diterima oleh keluarga TKW itu sendiri. Sehingga para TKW itu menghadapi dilema.
Herlina, saat ini merawat 13 anak -anak TKW yang secara suka rela memberikannya. Semua dianggap sebagai anak kandungnya sendiri. Ada pula TKW yang memberikan anaknya kepada kerabat yang dikenalnya seperti yang dialami warga Cianjur ini. Kini dia membesarkan dua anak perempuan kembar yang lahir dari TKW yang menjadi korban pemerkosaan oleh majikannya sendiri.
Beruntung bagi anak-anak TKW itu bila dirawat penuh kasih sayang oleh keluarga yang menyayangi mereka. Namun dari segi hukum belum ada perlindungan khusus bagi anak-anak itu.
Saat ini jumlah anak-anak TKW yang terlahir akibat hubungan gelap atau perkosaan belum terdata secara akurat. Mereka tersebar diberbagai tempat. Dari mulai di perkampungan, sekitar Bandar Soekarno Hatta hingga ditempat-tempat lainnya.
Menelusuri penyebab para TKW kerap menjadi korban kekerasan seksual tidaklah mudah. Jika diamati para TKW justru terkesan lugu. Bahkan banyak diantara mereka yang menutup rapat tubuh mereka dalam balutan busana tertutup.
Nasib memang terkadang sulit diterka. Saat berangkat bekerja ke luar negeri, para TKW ini berharap bisa mendapat penghasilan yang memadai untuk membuat keluarga mereka sejahtera. Namun kenyataannya, tidak seindah yang mereka rencanakan. Para TKW khususnya yang bekerja didaerah Timur Tengah harus mengerti tentang kebiasaan didaerah setempat, agar tidak menjadi korban kekerasan seksual.
Kendati berusaha menjaga diri dengan baik, wanita ini tak urung tertimpa nasib malang pula. Kendati majikannya yang tinggal di Oman sangat baik, dia justru diperkosa orang tak dikenal saat sendirian berada di rumah.
Nasib serupa juga dialami oleh Tuti, sebut saja demikian. Dia diperkosa oleh majikannya di Arab Saudi hingga hamil dan melahirkan anak. Kini Tuti memilih kembali ke desanya yang terletak diatas perbukitan di Cianjur, Jawa Barat setelah menitipkan anaknya kepada orang yang dipercayainya.
Dia memilih jauh dari anak kandungnya sendiri karena merasa tak sanggup untuk membesarkan dan memberi penghidupan yang layak. Wanita malang ini merasa takut untuk mengungkapkan kasus yang menimpanya kepada pihak berwenang. Tak lain karena ketidaktahuan. Padahal bila melapor ke Kedutaan Besar RI atau ke pihak berwenang mereka berhak menerima perlindungan hukum.
Dorongan kuat untuk mencari nafkah seringkali membutakan para TKW atas realitas yang harus dihadapi. Sehingga, mereka mudah sekali menjadi korban tipu daya. Pasalnya, selain kebanyakan berasal dari daerah, para TKW itu sendiri rata-rata tidak berbekal pengetahuan maupun keterampilan yang cukup untuk bekerja.
Sebelum menjejakkan kaki di tanah orang, selayaknya para TKI mendapat pengetahuan yang cukup tentang budaya di negara tempat tujuannya bekerja.Lebih baik lagi bila para TKI itu memiliki ketrampilan sebagai bekal.
Namun, realitanya tidaklah seperti itu. Banyak di antara para TKW yang tidak tahu menahu dengan jenis pekerjaan maupun ke mana mereka akan dipekerjakan. Parahnya lagi, ketika masalah menimpa, mereka tidak tahu harus mengadu ke mana.
Data Depnakertrans menyebutkan, dalam setahun, tercatat ada 1.645 orang yang mengalami kasus pelecehan seksual, kekerasan serta tindak pidana hingga pemerasan. Depnakertrans, bekerja sama dengan Departemen Luar Negeri juga berusaha memberikan bantuan hukum bila ada TKI yang terjerat hukum di luar negeri.
Namun, itu semua memang belum membuat para TKI bisa tersenyum lega. Ketika kembali ke tanah air pun, serangkaian masalah masih menerpa mereka, khususnya pemerasan terselubung oleh oknum yang bertugas melayani transportasi para TKI.
Hal itu juga tidak dilaporkan oleh para TKI kepada aparat keamanan karena mereka merasa takut. Rasa takut dan ketidaktahuan memang sering menjebak para TKW kita.
Aparat yang berwenang sangat perlu memberi perlindungan agar mereka benar-benar bisa bermanfaat demi kemajuan negeri ini. Sebab, selain memberi devisa bagi negara, mereka adalah pahlawan bagi keluarga mereka yang menunggu di kampung halaman.
Para TKW sesungguhnya adalah aset bangsa. Mereka harus mendapat perlindungan yang cukup baik agar tidak tersia-sia. (Suprie)
Showing 1 to 10 of 14 comments Page: 1 2 15-Apr-2008 11:35:17 WIB by kasih kasian pr TKW selain mrk menjukal tenaga merk jg hrs melayani nafsu bejatny pr majikan yg g puny otak ,,, dimana n bgmn apa yg akn trjd nantiny ,,, bnr2 g ada etika ,,, cm nafsu yg mereka no 1kn ?? 31-Mar-2007 14:22:57 WIB by delva sangat bagis, semoga artikel ini dibaca oleh ''para Dewan Terhormat'' dan dapat membuka hati nurani mereka . 31-Mar-2007 14:20:27 WIB by delva sangat bagis, semoga artikel ini dibaca oleh ''para Dewan Terhormat'' dan dapat membuka hati nurani mereka . 26-Mar-2007 13:59:29 WIB by edyvanvreden Namanya juga komentar, siapa mau peduli dengan kesusahan orang lain, pemerintah saja tidak peduli apa lagi kita-kita orang. 20-Mar-2007 23:16:55 WIB by LN emang kalian yg berkomentar disini, kita2 dengarkan ?? hahahahah kita disini juga kerja cari uang, untung bener kerjaan kita ringan, gaji geude, ga banyak jamnya .. kebanyakan ngerumpi sesama pegawe ! ngurusin orang lain ??? duit yg berbicara ... memang sadis, tapi itu kebanyakan kita2 yg bekerja diLN. disebut sombong dan angkuh dr cara bicara atau kelakuan. emang kita pikirin .. 15-Mar-2007 16:09:51 WIB by hhh ya seharusnya perlindungan terhadap TKW " yang baik "lebih harus diterapkan. dan qualiti , education TKW juga. 12-Mar-2007 18:19:35 WIB by edyvanvreden Ironisnnya, pemerintah Indonesia tidak bisa memberikan lapangan pekerjaan yang memadai bagi banyak wanita seperti TKW, jadi otomatis untuk memperbaiki nasib mereka pergi ke Timur Tengah untuk mencari pekerjaan, apalagi gaji dollar atau dinar yang mengiurkan dibandingkan dengan gaji TKW di Indonesia, jadi seperti makan buah simalakama, mau bertahan di Indonesia bisa jadi penganguran abadi, jadi terpaksa bekerja di Timur Tengah (Arab Saudi) apapun resikonya disiksa atau diperkosa. 11-Mar-2007 03:01:01 WIB by eko stop pengiriman tkw kita bukan negara penjual wanita, kita punya harga diri .kejayaan dan kesuksesan suatu negara tergantung dari para wanitanya. 11-Mar-2007 02:54:01 WIB by micho bung erwin dan bung iwan saya sangat senang dan berterima kasih ats keperdulian anda menulis artikel tentang nasib TKW,menurut pengamatan saya karna lemahnya kedubes kita di luar negeri dlm melindungi mereka,contohnya kedubes kita yg ada di jeddah arab saudi mereka bekerja bukan untuk rakyatnya tapi mereka bekerja untuk real saudi,sdh banyak kasus yg terjadi tkw meminta perlindungan hukum di kedubes karna suatu masalah tapi oleh oknum kedubes dia bilang "apa yg bisa kita perbuat kalian sudah terikat kontrak kerja ya harus kalian jalani kalian kesini kan cari uang turutin aja majikan kalian"seakan mereka menganggap para TKW itu anjing yg sudah di jual sama pemiliknya,dan banyak kasus kekerasan fisik pengingkaran kontrak dan pelecehan seksual oleh pengguna jasa TKW yang ditutupin oleh kedubes dengan uang tutup mulut oleh para pengguna jasa TKW dan bahkan mengembalikan TKW tersebut ke majikan yg jelas-jelas mengingkari kontrak dan melakukan pelecehan.sehingga pemerintah indonesia tdk tau angka kekerasan thd TKW kita yg sebenarnya.dan sampai sekarang pemerintah belum tau apa yg mereka kerjakan di dalam kantor yg besar dan megah itu mereke mengemis sama para jutawan saudi ,mereka menutupi kasus paraTKW hanya demi beberapa ratus saudi real, mereka tidak perduli atas bangsanya sendiri. 23-Feb-2007 04:53:51 WIB by achmad adil Indonesia semestinya mesti perhatiin dong nasib TKW kita yang berada di oman. saya pernah kontak telpon dengan salah satu pegawqai Ministry manpower di oman katanya sekarang ini (sampai saat ini ) paling banyak masalah TKW itu dari indonesia.Dan lagi saya pernah bertemu dengan "ex napi" oman yang dikurung 3 bulan.mereka terkadang diperkosa dikantor polisi oman (gila!!)dan dikasih uang 2-5 real oman. Sekali lagi, tolong dong pemerintah punya kedutaan di oman. seperti Kedutaan pilipina dan yang lainnya. saya terkadang sampai nangis melihat TKW kita yang kabur dan minta pertolongan.saya hanya suruh dia ke kantor polisi aja.karena saya di oman hanya baru beberapa bulan saja. Dan lagi katanya tiap 3 bulan sekali ada pertemuan untuk para pekerja indonesia di Oman. tapi nyatanya informasinya yang tidur atau petugas kedutaan kita yang "Ngo |
 |
indosiar.com, Jember - Mardiah, seorang TKW (Tenaga Kerja Wanita) asal desa Suko Rejo, Jember, Jawa Timur akhirnya pulang ke tanah air setelah menjalani hukuman cambuk atau rajam dan di penjara 1 tahun di tahanan Jeddah, Arab Saudi. TKW itu mengungkapkan masih ada ribuan TKI yang menjadi tahanan di Jeddah, namun selama proses hukum banyak yang tidak didampingi pengacara maupun bantuan dari Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI).
Haru suka cita keluarga Dwi Mardiah tak bisa disembunyikan tak kala berjumpa dengan keluarganya. TKW asal Desa Suko Rejo, Jember itu sebelumnya dikhawatirkan tidak akan kembali pulang lantaran ditahan di Jeddah, Arab Saudi.
Sejumlah kerabat dan tetangga berdatangan untuk menanyakan kabar berita selama di penjara hingga akhirnya kembali menginjak tanah air. Dwi Mardiah tiba di tanah air bersama Siti Kolifah, TKW asal Genteng, Banyuwangi.
Siti Kolifah pulang karena dituduh membunuh oleh majikannya. Namun sebelum diseret ke meja hijau, seorang keluarga majikan lainnya berinisiatif memulangkan ke tanah air.
TKW yang berangkat melalui PJTKI PT Baham Putra Abadi Jakarta itu telah menjalani hukuman cambuk 700 kali dan penjara setahun karena dituduh berzina.
Mardiah mengungkapkan selama di penjara di Jeddah, Arab Saudi banyak bertemu dengan TKW asal Indonesia yang akan menjalani berbagai hukuman termasuk hukuman mati. Jumlahnya lanjut Mardiah satu tempatnya saja bisa mencapai seribu orang lebih. Perempuan beranak satu ini memastikan jumlah itu saat melihat dikumpulkan dalam sebuah aula berukuran besar layaknya arena sepak bola. (Nursalim/Sup) Showing 1 to 2 of 2 comments Page: 1 2-Jun-2007 06:29:54 WIB by husain rahmat sasak Watak orang saudi emang kebanyakan watak bejat, keturunan abu jahal. mereka itu kebanykan munafik, untuk org pendatang haram, tapi untuk mereka halal. misalnya, sopir aja ga boleh ketemu ama pembantu / tkw, katanya aib / haram karena bukan muhrim, tapi mereka bukan hanya melihat/ bicara, malah memperkosa pembantu.. pokoknya kebanyakn munafik. pengalaman teman aku dari cirebon di mekah dapat majikan seorang muazzin/ tukang azan di masjid Alharam, sedikit2 ngomongnya haram, tapi selama 6 bulan tidak di kasih gaji, akhirnya kabur ke jeddah, dan bekerja di majikan saya samapi 2 tahun dan pulang ke indonesia, begitulah nasib tki di arab saudi, kami harus minta tolong kemana...? ke KJRI tidak di tanggapi, harus kmn lagi...? akhirnya kita walaupun benar tetap di salahkan. TooooooLooooooooooong...!! 28-May-2007 16:55:03 WIB by edyvanvreden Wah mana suara FPI kok diam saja, sudah banyak TKW Indonesia yang jadi korban keganasan hukum di Arab saudi, mana suaramu kok tidak ada demo-demo lagi, jangan cuma demo-demo anti amerika saja yang nota bene dibilang bangsa kafir. Negara Indonesia yang sebagian besar adalah muslim seharunya bisa menyuarakan keadilan di Arab Saudi, kalau tidak suka dengan TKW indonesia lebih baik dipulangkan saja jangan disiksa. kasian kok dengan saudara sesama muslim kelakuan mereka tidak menghormati kaum wanita indonesia yang sudah bersusah payah bekerja disana. |
 |
indosiar.com, Sukabumi - Kasus-kasus menyangkut tenaga kerja wanita (TKW) diluar negeri sampai saat ini masih menjadi masalah rumit. Salah satunya dialami seorang TKW asal Sukabumi Jawa Barat di Arab Saudi yang menghilang secara misterius sejak 9 tahun lalu.
Keluarga Masitoh yang tinggal di kampung Cimaja, Geger Bitung, Sukabumi sudah bertahun-tahun gundah. Pasalnya sejak 9 tahun belakangan ini tidak bisa berkomunikasi dengan Masitoh, ibu muda yang bekerja di Arab Saudi.
Mereka hanya bisa pasrah mengenai nasib Masitoh. Kedua anaknya Yadi dan Sutinah serta suami Masitoh, Nadin hanya bisa menunggu.
Masitoh berangkat pada tahun 1996 melalui Perusahaan PJTKI Amri yang beralamat di Jakarta Selatan. Komunikasi terakhir dengan Masitoh terjadi pada tahun 1998. Ketika itu Masitoh menelpon dan berencana mengirimkan paket pakaian Masitoh. Kini pakaian Masitoh tersebut masih tersimpan didalam koper besar di kamar.
Hilangnya Masitoh sempat dilaporkan ke Komnas HAM dan Dinas Tenaga Kerja Kabupaten Sukabumi. Kosasih, warga setempat mengaku sudah lebih dari 3 tahun, pihak keluarga belum menerima perkembangan dari pengaduan hilangnya Masitoh. (Wulan Sapto Hadi/Sup) |
 |
indosiar.com, Sukabumi - Penderitaan Tenaga Kerja Wanita (TKW) seakan tidak pernah habis. Nurlela, TKW asal Sukabumi, Jawa Barat, mengalami penyiksaan cukup hebat saat bekerja di Arab Saudi. Selain dipasung dengan rantai, tangannya disayat dan tubuhnya dihantam benda tumpul hingga mengalami patah tulang rusuk.
Nurlela masih tergolek lemah di ruang observasi Unit Gawat Darurat Rumah Sakit R Samsudin Kota Sukabumi. Bekas luka lebam akibat penganiayaan yang didapatnya saat bekerja di Arab Saudi masih jelas terlihat.
Berdasarkan hasil ronsen, beberapa tulang rusuk warga Kecamatan Surada, Kabupaten Sukabumi ini patah. TKW yang bekerja sebagai pembantu di Arab Saudi sejak Agustus 2006 ini mendapat siksaan hebat dari dua anak majikannya yaitu Rahman dan Muhammad. Keduanya berang karena Nurlela yang berusia 23 tahun ini, menolak diajak berhubungan intim.
Pihak keluarga sudah melaporkan kasus ini ke pihak kepolisian serta dinas terkait setempat. Pihak keluarga juga berencana akan menuntut pertanggungjawaban pihak Perusahaan Jasa Tenaga Kerja Indonesia atau PJTKI yang memberangkatkan Nurlela.
Nurlela berhasil kembali ke Indonesia atas bantuan teman-temannya sesama TKW di Arab Saudi, sedangkan ongkos kepulangannya adalah menggunakan gaji yang sudah dibayarkan oleh majikannya. (Wulan Saptohadi/Sup) |
 |
indosiar.com, Jakarta - Nasib tragis kembali menimpa Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di luar negeri. Nasib tragis berupa kematian ini dialami Lutfiah binti Misnawi, TKW asal Probolinggo yang bekerja sebagai pembantu rumah tangga di Yordania.
Jenazah Lutfiah Rabu (26/09/07) kemarin, diambil dari salah satu kawasan pergudangan internasional Bandara Soekarno Hatta. Didalam peti jenazah terbaring jasad Lutfiah binti Misnawi, TKW berusia 19 tahun asal Probolinggo, Jawa Timur yang sejak 19 bulan terakhir bekerja sebagai pembantu rumah tangga di Yordania.
Menurut Yasir, kakak sepupu almarhumah, pihak keluarga menerima kabar meninggalnya Lutfiah pada 30 Juli lalu, 7 hari setelah almarhum meninggal. Sebelumnya almarhumah Lutfiah sempat menelpon dan berkeluh kesah mengenai majikannya yang pada awalnya baik, namun kemudian memperlakukannya dengan kasar.
Sementara itu Yuni Asrianti, dari Yayasan Institut Buruh Migran LSM yang mendampingi keluarga korban mendesak pemerintah dan berbagai instansi terkait mencari tahu penyebab sebenarnya kematian almarhumah Lutfiah.
Sebelum jenazah tiba, sempat terjadi ketegangan antara Yayasan Institut Buruh Migran dengan perwakilan PJTKI yang memberangkatkan Lutfiah. Riki alias Saiful, yang mewakili PJTKI menegaskan, pihaknya akan memenuhi semua kewajiban atas meninggalnya Lutfiah seperti mengurus pemulangan serta pemakaman korban hingga penyerahan asuransi sesuai dengan perjanjian yang telah disepakati sebelum keberangkatan Lutfiah ke Yordania. (Gusti Eka Sucahya dan Wahyu Wacana/Sup) |
 |
ndosiar.com, Karawang - Nasib naas kembali dialami Tenaga Kerja Wanita (TKW) Indonesia di luar negeri. Seorang TKW asal Karawang, Jawa Barat yang bekerja di Arab Saudi terancam hukuman pancung setelah dituduh membunuh anak majikannya.
Duka mendalam dirasakan Acah dan suaminya Ocim, orangtua Karsih TKW asal Kampung Pangaritan, Desa Pagadungan, Kecamatan Tempuran, Kabupaten Karawang, Jawa Barat. Sejak putri kesayangan mereka yang bekerja sebagai TKW di Arab Saudi terancam hukuman pancung, kegundahan terus melanda kehidupan keluarga ini.
Kabar tersangkutnya Karsih dengan kasus hukum di Arab Saudi di terima keluarga ini sejak bulan Agustus 2007 lalu. Karsih mengambarkan, ia ditahan pihak kepolisian Arab Saudi atas tuduhan membunuh anak majikan yang sama sekali dibantahnya.
Setelah lama tanpa kabar, pada 7 Januari lalu, pihak keluarga kembali dihubungai Karsih. Ia berpamitan dan meminta maaf pihak keluarga karena ia akan segera dieksekusi hukuman pancung oleh pihak Kerajaan Arab Saudi.
Dalam kondisi panik, pihak keluarga berupaya mencari kejelasan nasib yang menimpa anaknya. Sayangnya hingga saat ini tidak satupun pihak terkait yang dihubungi keluarga mengetahui pasti nasib TKW malang ini. Hal inilah yang membuat penderitaan pihak keluarga semakin bertambah.
Karsih binti Ocim berangkat sebagai TKW di Arab Saudi pada Februari tahun 1999 melalui Jasa PJTKI PT Kosana yang beralamat di Jalan Kalisari, Jakarta Timur. Ia bekerja pada keluarga Ali Muhammad Al Asiri di Riyat, Arab Saudi.
Sejak Agustus tahun lalu, ia ditahan Kepolisian Arab Saudi dengan tuduhan meracuni anak majikan hingga tewas. Keluarga berharap pemerintah Indonesia segera turun tangan membantu menangani kasus ini. Meski dibayangi keraguan, pihak keluarga masih menyakini bahwa anak mereka saat ini masih hidup. (Zaenal Arifin/Sup) |
 |
ndosiar.com, Jakarta - Rapat Kabinet Terbatas yang digelar di Kantor Depnakertrans Rabu (16/01/08) kemarin, diwarnai kedatangan Gino, suami Yanti Irianti, TKW asal Cianjur yang dieksekusi mati di Arab Saudi. Kedatangan Gino untuk mendesak pemerintah membantu pemulangan jenazah istrinya. Gino gagal menemui presiden karena keburu diusir Paspampres dari areal Depnakertrans.
Kegiatan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memimpin sidang kabinet terbatas di Gedung Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi kemarin menjadi alasan Gino, suami Yanti Irianti untuk mendatangi kantor Depnakertrans tersebut. Namun sayang, niat Gino yang hanya ingin mengadukan masalahnya ke presiden ini kandas setelah Paspampres mencium keberadaannya di tengah wartawan.
Sebelum diusir keluar gedung, Gino sempat menyatakan keinginannya bertemu presiden untuk mempercepat pemulangan jenazah istrinya Yanti Irianti, salah satu TKW Indonesia yang telah dihukum mati di Arab Saudi pekan lalu yang dituduh melakukan pencurian.
Usai sidang kabinet terbatas Presiden menyatakan, telah mendengar kasus yang menimpa Yanti Irianti tersebut. Karenanya Presiden telah memerintahkan Depnakertrans dan Departemen Luar Negeri untuk segera menemui pihak Arab Saudi membahas proses pemulangan jenazah Yanti.
Menurut Presiden Yudhoyono dalam sidang kabinet terbatas ini pemerintah juga memutuskan untuk memaksimalkan penanganan para TKI yang berada di luar negeri, baik menyangkut kepastian hak-hak para TKI dan perlindungan hukum bagi mereka. (Nancy Erene dan Sri Indro/Sup) Nama: |
 |
ndosiar.com, Karawang - Nasib malang kembali dialami TKW asal Kerawang, Jawa Barat. Tarwi binti Atin terpaksa dirawat di rumah sakit dengan luka melepuh di sekujur tubuhnya akibat disiram air panas dan disetrika majikannya di Arab Saudi.
Trauma akibat kekerasan masih belum hilang di wajah Tarwi, TKW (tenaga kerja wanita) asal Dusun Baros Desa Panca Karya, Kecamatan Tempuran, Kabupaten Karawang, Jawa Barat. Kondisi perempuan berusia 28 tahun ini bahkan sangat mengenaskan dengan sejumlah luka di tubuh, sementara hampir seluruh kulit tubuhnya melepuh.
Tarwi merupakan TKW naas yang menjadi korban kekerasan sang majikan. Menurut korban berbagai siksaan yang hampir merengut nyawanya ini, lantaran dianggap lamban dalam bekerja.
Untuk sebuah kesalahan kecil, majikan korban yakni pasangan Husein Al Abit dan Fatwa tidak segan-segan memukul bahkan menyetrika dan menyiramnya dengan air panas. Korban yang dalam kondisi sakit akibat berbagai siksaan memaksa sang majikan untuk memulangkannya ke kampung halaman. Korban hingga kini masih dirawat di ruang Uhud Rumah Sakit Islam Karawang. Pihak keluarga menuntut pemerintah dan PJTKI agar mengusut kasus penyiksaan ini.
Tarwi binti Atin berangkat menjadi TKW ke Arab Saudi sejak tahun 2006 lalu. Ia berangkat melalui Perusahaan Pengerah Jasa Tenaga Kerja Luar Negeri (PJTKI) yang berlokasi di Jakarta. (Zaenal Arifin/Sup)
Showing 1 to 3 of 3 comments Page: 1 30-Apr-2008 04:27:30 WIB by rindu aduh... lagi-lagi TKW di Arab Saudi, kerja ke Arab sama saja SETOR NYAWA. Gimana nih pemerintah gak ada tindakan tegas ke pem. Arab. 29-Apr-2008 16:32:42 WIB by ichayoung allahuakbar tega bgt .............mmg tabiat org arab itu kasar sadis dan suka merendahkan org lain ...........pemerintah/org arab itu sebenarnya kurang bersimpati dgn org indonesia byk kejadian2 yg nyata klo bangsa arab kurang bersimpati dgn bangsa indonesia 29-Apr-2008 14:57:10 WIB by Serina busyeeeet! kejam bgt , apakah mereka di ARAB, diajarkan sedemikian rupakah? Hukum! TKI adalah tenaga yg berguna, mereka bekerja keras tuk cari uang |
 |
Indramayu - Cerita duka tenaga kerja wanita kembali terulang. Seorang TKW (Tenaga Kerja Wanita) asal Indramayu meninggal di Syiria diduga akibat penganiayaan majikannya. Selain mengalami kekerasan fisik, gaji korban selama bekerja selama satu tahun sama sekali belum dibayar.
Kedatangan jenazah Laila Darus langsung disambut isak tangis keluarganya di Blok Pasarean Desa Singaraja, Indramayu. Fatma, ibu kandung korban tampak shok melihat putrinya pulang tanpa nyawa.
Seputar penyebab kematian korban pun masih diliputi misteri. Pihak KBRI Syiria memberikan keterangan korban meninggal karena terjatuh dari lantai 4 di rumah majikannya. Padahal berdasarkan pengakuan korban semasa hidup kepada keluarga, rumah majikannya hanya satu lantai.
Pihak keluarga menyakini korban tewas akibat penyiksaan yang dilakukan majikannya. Hal ini didasari pengakuan sepupu korban Ratnasari yang bekerja TKW di Oman, 10 hari kemudian korban meninggal.
Kepada Ratnasari korban sering mengeluh dirinya menjadi sasaran kekerasan majikannya, Halil Kholil. Korban juga mengatakan tak digaji selama satu tahun. Pada tanggal 5 Mei korban mengaku dipukul majikannya dengan balok dibagian wajah.
Sementara itu Dinas Sosial dan Tenaga Kerja Indramayu mensinyalir telah terjadi penyalahgunaan dokumen penempatan. Dalam paspor negara tujuan tempat korban bekerja adalah Malaysia. Namun oleh PJTKI PT Balituta Mandiri Denpasar, korban dikirim ke Timur Tengah. (Masyuri Wahid/Sup) |
 |
kalo liat berita tuh jangan dicerna mentah..ente orang kampus,,pinterkah??liat dong apa hubungannya perbuatan orang arab itu sama ISLAM,lah orang non-ISLAM juga pernah perkosa orang laen,,ente masih perawan ato gak?sama siape ente diperawanin..diagama ente ada gak peraturan menikah??di ISLAM jelas ada..syarat berhubungan badan ya harus menikah dulu..udh jelaslah itu perbuatan orang arab bukan ISLAM,ISLAM udah ngatur semuanya..baca ye tulisan guwe..biar ilmu lo nambah,,lha lo kalo mau nyerang arab serang aja sono ke arab..jangan ISLAM yang lo serang..gw punya slogan buat loe = "baca ISLAM dari dalam" ok,gak usah pindah agama dulu,,pelajarin aj dulu..nanti lo berpendapat..semoga mendapat hidayah :) |
 |
Gaji Tak Dibayar, Diperkosa Pula
Liputan6.com, Semarang: Sisi, seorang tenaga kerja wanita Indonesia asal Semarang, Jawa Tengah, menjadi korban perkosaan saat bekerja di Dubai, Uni Emirat Arab. Kejadian itu dilaporkan Sisi ke Markas Kepolisian Resor Semarang Selatan, belum lama ini. Dengan menggendong seorang bocah laki-laki berumur dua tahun, Sisi menceritakan pengalaman pahit ketika bekerja di negeri orang.
Menurutnya, selama empat tahun bekerja pada sang majikan, gajinya tak pernah dibayar. Tidak itu saja, Sisi juga melaporkan Abdulah, anak sang majikan yang telah memperkosanya. Ketika anak hasil hubungan mereka lahir, Abdullah pun menolak bertanggung jawab.
Lain Sisi, lain pula nasib Eti, TKW asal Cianjur, Jawa Barat. Dia ditangkap polisi Arab Saudi saat akan dijual majikannya menjadi pekerja seks komersial. Meski menjadi korban, Eti kemudian dijebloskan ke dalam penjara.
Sisi dan Eti adalah dua contoh kasus betapa kejamnya perlakuan terhadap TKW asal Indonesia yang bekerja di Timur Tengah. Selain itu, perlindungan yang diberikan pemerintah terhadap mereka juga belum maksimal. Padahal sosok seperti Sisi dan Eti sudah mendatangkan devisa yang tidak sedikit bagi Indonesia.(ADO/Tim Liputan 6 SCTV) |
 |
nandi wae to iku ra tau ketok po nang tanggapa wae lo jathilane............... |
 |
Assalamualaikum......met lebaran mohon maaf lahir dan batin walu pun udah hampir basi....heeheheheheheh,,,,,gmn kbrnya kak nopi.....???? |
 |
hai....lam knal n jabat tangan...:) |
 |
aku bukan anak penogoro aku dr lampung bak |
 |
permisiii...numpang lewattt...
f@y |
 |
yuuukkk ah ke RieButik ^_^ |
 |
hi,novie...ada monyet yang duplikatin mp kamu tuh,hahahah.. |
 |
sepuluh jari q brjnji, dgn stls hti .tiba sdh suara bdg takbr brkmndg,nmn q hny bsa mngcpkn minl aidzin wal faidzin mohon maaf lahir btn |
 |
Hai.... Bolehkah aku bersahabat denganmu!!! |
 |
Halo Mbak Novi, Afgan boleh kenal ma Mbak Novi yang maniez dan caem |
 |
Ass, tiada dua orang sepertimu, bangga diri ini punya saudara sepertimu, dan hanya ucapan yang bisa kuberikan padamu, Khilaf pasti ada salah pasti banyak _maka maafkanlah diriku…..semoga harimu selalu dalam rahmatnya aminnn
A. Andriyadi
|
 |
Terkadang lisan mengucap tak terjaga, hati berprasangka tanda tak berkenan, maaf jika tangan tak sempat berjabat, seridaknya ada kata yang terucap, Minal Aidzin Wal Faizin, Mohon Maaf Lahir & Batin |
 |
JEDDAH - Diskriminasi seksual masih sering terjadi di Arab Saudi seperti kasus wanita muslim muda ini. Malang nian nasib wanita muda ini. Sudah diperkosa oleh sekelompok pria, dirinya malah dijatuhi hukuman cambuk oleh pengadilan.
Peristiwa memilukan ini menimpa seorang perempuan dari suku Syiah di Kota Qatif, Arab Saudi. Oleh pengadilan Saudi, wanita berusia 19 tahun itu dihukum cambuk 200 kali.
Wanita yang dirahasiakan identitasnya itu diculik dan diperkosa oleh 7 pria arab saudi yang biadab. Saat itu dia sedang bersama seorang pria yang bukan muhrimnya. Demikian seperti diberitakan harian Sydney Morning Herald.
Pengadilan Agama Saudi awalnya menjatuhkan hukuman cambuk 90 kali pada wanita malang itu. Sedangkan para pemerkosa dihukum penjara antara 10 bulan dan lima tahun. Pengadilan Agama Saudi beralasan, wanita itu juga harus dihukum karena dia berdua-duaan dengan pria yang bukan muhrimnya dan berhubungan seksual dengan pria yang juga bukan muhrimnya.
Namun pekan lalu, Dewan Pengadilan Tinggi Saudi memberikan hukuman yang lebih berat bagi korban pemerkosaan tersebut. Wanita itu dikenai hukuman cambuk 200 kali dan penjara 6 bulan. Sedangkan para pemerkosa divonis antara 2 tahun dan 9 tahun penjara, tanpa hukuman cambuk.
Pengadilan Agama Saudi bahkan mengambil tindakan disiplin terhadap pengacara korban, Abdul-Rahman al-Lahem. Dia dipaksa melepas kasus tersebut karena telah berbicara ke media.
Putusan yang berdasarkan hukum Islam Saudi yang ketat ini menimbulkan kritikan dari pemerintah Amerika Serikat (AS). Juru bicara Departemen Luar Negeri AS mencetuskan, sebagian besar orang akan terheran-heran melihat hal seperti ini terjadi.
Badan HAM internasional, Human Rights Watch yang berbasis di New York, AS telah meminta Raja Abdullah untuk mencabut semua tuduhan terhadap wanita tersebut. Bulan lalu, Raja Abdullah mengumumkan rencana untuk mengubah sistem peradilan di negeri itu.
|
 |
monggo novi........ nov,iki potone neng HOLEWODD yo???????????? |
 |     |  |    |
| |